Mau Dibawa Kemana Gerakan Sosial

Mau Dibawa Kemana Gerakan Sosial*

Tidak semua gerakan sosial melalui jejaring sosial dapat berubah menjadi tindakan nyata yang konkret. Linkage atau keterkaitan antara dunia maya dan realita tetap diperlukan.

Pengamat politik Daniel Dakhidae mengungkapkan itu dalam diskusi buku ‘Oposisi Maya‘, kemarin petang. Buku yang diterbitkan INSISTPress mencoba menelaah fenomena keberhasilan penggalangan dukungan masyarakat melalui situs jejaring sosial, seperti Facebook. Buku berisi tulisan beberapa aktivis gerakan sosial dan media seperti Lies Marcoes-Natsir, Saleh Abdullah dan Nezar Patria.

Lies mencontohkan apa yang dimaksud Daniel itu dalam kasus Prita Mulyasari. “Dalam kasus itu media jejaring sosial berhasil mendapatkan dukungan besar karena ia juga menjadi saluran penyampaian kekecewaan masyarakat terhadap sistem kesehatan yang ada,” katanya.

Aktivis gerakan media dan peneliti sejarah Hilmar Farid menambahkan, tidak semua gerakan sosial melalui jejaring sosial positif. Mudahnya bergabung dalam gerakan sosial hanya dengan memencet tombol enter, menurutnya, dapat memunculkan The power of naiviety alias Kekuatan Keluguan. “Seseorang dapat mendukung suatu isu tanpa benar-benar mengetahui substansi isu itu,” katanya.

Persoalan sekarang menurut sekjen INSIST Saleh Abdullah adalah bagaimana mendorong suatu isu lebih jauh agar berdampak postif terhadap masyarakat luas. “Ok, kasus Prita berhasil mengumpulkan koinnya, tetapi setelah ini mau apa? Mau dibawa kemana gerakan sosial itu?” katanya.

*ASWIDITIYO NEDWIKA | Sumber Lansiran: TEMPO Interaktif  – 26 Februari 2010, 09:03 WIB.