Oposisi Maya, Sebuah Pilihan Baru

Oposisi Maya, Sebuah Pilihan Baru*

Kedua upaya sukses itu kini menjadi model untuk berbagai keperluan mobilisasi massa yang lain termasuk upaya Erry Riyana Hardjapamekas yang membela Menkeu Sri Mulyani Indrawati dalam kasus bail out Bank Century. Tidak semuanya berhasil.

“Kita mesti sadar bahwa ada linkage antara dunia maya dengan dunia empiris sehingga usaha itu berhasil,” tutur pengamat gerakan sosial Daniel Dakhidae saat berbicara dalam diskusi buku berjudul  “Oposisi Maya” hasil suntingan Putut EA, 25 Februari lalu. Bila upaya itu dilakukan di sebuah masyarakat dengan sistem sosial dan politik lain belum tentu berhasil. Misalnya saja upaya dilakukan di Singapura yang menjalankan sistem kontrol yang ketat.

Keterkaitan menjadi soal yang penting dalam hal ini. Tak ada artinya bila gerakan hanya besar di dunia maya saja. Seseorang hanya yang memainkan jari-jarinya di papan kunci komputer bisa menjadi sangat berkuasa, karena memiliki jutaan pengikut. Namun di dunia nyata bisa jadi ia tak ada yang mengenalnya.

Kemajuan teknologi informasi membawa peluang dan tantangan sendiri. Di masyarakat yang belum sepenuhnya mengkonsumsi teknologi informasi, pegiat gerakan sosil masih harus bertumpu kepada metode kerja yang sederhana seperti yang selama ini digelutinya. Pemanfaatan internet masih terbatas, misalnya hanya untuk berkomunikasi antar sesama pegiat sosial saja. Sementara komunikasi dengan grass root masih harus menggunakan media konvensional.

Di mata Lies Marcoes, pegiat gerakan perempuan, pembelaan terhadap Prita Mulyasari, meluas, karena kombinasi pemanfaatan media jejaring sosial Facebook dengan media-media konvensional baik cetak maupun elektronik. “Semua memberikan gambaran tentang Prita sedemikian rupa, sehingga menarik empati yang besar,” tegasnya.

Situasi dan karakter yang dimiliki Prita sebagai sosok yang ditokohkan cocok dengan situasi psikologis para facebookers. Tak heran bila dukungan itu membanjir. Lain halnya kalau sosok yang ditokohkan memiliki karakter dan ciri berbeda atau bertolak belakang dengan Prita. Bahkan secara lebih ekstrim Lies, sangat yakin dukungan tidak akan mengalir bila Prita itu Prito!!

Lies Marcoes mempertanyakan kenapa seolah pencapaian dari eksperimen baru ini terhenti seiring surutnya pemberitaan media massa terhadap kedua kasus itu. Menurut dia, dalam kasus Prita, masyarakat menginginkan perubahan sistem kesehatan. Selama ini sistem itu telah menempatkan rumah sakit sebagai sesuatu yang kokoh dan tak tersentuh konsumen termasuk pasien yang selalu menjadi korbannya.

“Koin yang terkumpul merupakan reaksi masyarakat menerima sesuatu (baca: putusan pengadilan) yang tidak mereka inginkan,” ujar Lies yang pernah pula menjadi korban malpraktik sebuah rumah sakit di Jakarta.

Buku Oposisi Maya yang merupakan kumpulan tulisan ini perlu kita baca agar dapat  memahami perangkat baru gerakan sosial ini. Para penulis yang menyumbangkan karyanya mencoba mendekati dan menggali masalah dengan caranya sendiri.

*Sumber: DemosIndonesia.org – 5 Maret 2010.