Remah-remah Ingatan Dodol

Remah-remah Ingatan Dodol*

Sejarah adalah masa lalu. Diri kita juga punya sejarah. Sejarah diri kita tidak hanya diisi oleh hal-hal serius, tapi juga ada hal-hal yang konyol. Pesan inilah yang ingin disampaikan penulis Fandy Hutari, dalam bukunya “Ingatan Dodol”. Ia berhasil mengangkat hal-hal konyol yang dialaminya dan yang dilihat di sekelilingnya di masa lalunya. Dalam buku ini, Fandy menggunakan karakter bernama Pendi. Mungkin saja kisah-kisah yang ada di dalam buku setebal 80 halaman ini tidak seluruhnya berasal dari ingatannya.

Mungkin saja Fandy menggunakan karakter Pendi karena beberapa ingatan konyol yang ada di dalam buku ini adalah berdasarkan imajinasi liarnya. Bukan pengalaman pribadinya.

Buku ini bukan diary. Pesan itu disampaikan di bagian “Basa-Basi” dalam buku ini. Jadi, semua yang ada cuma ingatan saja. Ingatan yang terus menempel di dapal pikiran si penulis.Masa kecil, hal-hal lucu dialami dalam kepolosan tingkah polah khas kanak-kanak. Menggugah. Terkesan apa adanya. Misalnya saja ketika ia sengaja menyetrum dirinya sendiri karena ia ingin tahu bagaimana rasanya tersetrum (hal. 23): “Aku penasaran sekali bagaimana rasanya kalau orang kena setrum listrik. Kebetulan waktu itu, rumah aku sedang direnovasi. Saat malam tiba, aku coba nyari stop kontak yang masih kebuka alias kabelnya masih keliatan. Saking penasaran mau merasakan setrum, aku colek stop kontak, dan ”BRRRTTTZZZZ!!!” aku tersetrum.

Cukup lama jari aku nempel di stop kontak, kira-kira satu menit. Setelah itu, badan aku lemes. Untung aja nggak mati.” Seperti itulah gaya Fandy berkisah. Ringan.Masa remaja didapat dari kebandelannya. Kisah-kisah pendek yang dilengkapi ilustrasi kartun buatan penulis sendiri, semakin menambah “sensasi” tawa dalam buku ini. Fandy berhasil mengangkat hal-hal “tabu” bin “ajaib” yang jarang sekali orang lain ingin membaginya secara luas. Ingatan yang mungkin akan terus terbayang hingga ajal menjemput. Mungkin buku ini bisa melengkapi hadirnya buku-buku bertema pengalaman pribadi atau yang sering disebut personal literature, semisal buku Kambing Jantan karya Raditya Dika atau Drunken Monster karya Pidi Baiq.

*Kasanwikrama, peminat buku | Sumber: KOMPAS – 20 Mei 2010.

*Rehal buku: Ingatan Dodol: Sebuah Catatan Konyol/ Fandy Hutari/ IMU Yogyakarta, 2010.