Hikayat Siti Mariah: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer

Hikayat Siti Mariah: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer*

Hikayat Siti Mariah adalah hasil karya sastra Melayu modern yang sangat populer. Selain ceritanya memikat, karya ini juga memiliki arti penting pada masa karya diciptakannya. Kepopulerannya membuat Hikayat Siti Mariah tertampil dalam berbagai versi. Satu hal yang membuktikan bahwa Hikayat Siti Mariah dibaca dan mendapatkan tanggapan yang sangat luas. Salah satu versi dari Hikayat Siti Mariah ini adalah buku yang diterbitkan oleh penerbit Hasta Mitra tahun 1983. Buku setebal 305 itu diedit oleh Pramudya Ananta Toer, dengan menghilangkan seperempat bagian cerita aslinya yang dianggap sebagai pengulangan-pengulangan.

Sebelumnya, Hikayat Siti Mariah ini pernah dimuat sebagai cerita bersambung di surat kabar Medan Priyayi. Surat kabar Medan Priyayi pernah mengalami kejayaan antara tahun 1910—1912 dengan tiras mencapai 2000 eksemplar. Disadari atau tidak, Hikayat Siti Mariah yang termuat di dalamnya turut ambil bagian dalam mendukung kejayaan Medan Priyayi sehingga surat kabar ini mendapatkan sambutan yang positif dari banyak kalangan dan mendapatkan pelanggan tetap. Surat kabar ini kemudian menjadi salah satu sarana dan alat untuk memperjuangkan benih-benih ideologi kebebasan dan kemerdekaan yang mulai disadari oleh kaum elit terpelajar Indonesia pada waktu itu. Hikayat Siti Mariah disinyalir merupakan karya bernuansa Islam yang merekam sejarah revolusi sosial kaum subaltern di Indonesia. Karya ini juga memuat gambaran kehidupan pergaulan antar bangsa.

Hadji Moekti, pengarang Hikayat Siti Mariah, disinyalir sebagai tokoh Sondari, anak seorang Residen Kedu. Bersama empat saudaranya yang lain ia tidak berhasil diakui sebagai anak oleh ayahnya (Residen Kedu, berkebangsaan Belanda), karena ayahnya terlanjur meninggal sebelum membuatkan bukti secara resmi. Setelah beberapa lama hidup dalam kemiskinan, Sondari berhasil menjadi seorang hartawan setelah menjabat sebagai konselir di daerah Turki.

Meskipun menggunakan kata hikayat, sebenarnya Hikayat Siti Mariah merupakan karya sastra Melayu Modern. Hal itu dapat dilihat dari isi ceritanya yang sudah terlepas dari sastra klasik dan tradisi istana sentris. Di samping itu, penggunaan bahasanya juga tidak lagi mengacu pada bahasa Melayu dari istana Johor.

Hikayat Siti Mariah secara umum menceritakan mengenai kehidupan tokoh perempuan bernama Siti Mariah pada tahun 1880-an. Kehidupan masa itu selalu berada dalam bayangan cultur stelsel pada pertengahan abad 19 menjelang abad 20 pada masyarakat di daerah perkebunan tebu dan pabrik gula di Jawa Tengah (Sokaraja). Hikayat Siti Mariah merupakan kekayaan yang mengagumkan dengan pengetahuan sosial ekonomi yang dalam, pandangan ke depan yang tajam, dan yang terutama adalah kebencian dan kejijikan yang tidak mengenal ampun terhadap feodalisme, birokrasi, dan imperialisme.

Dalam buku ini, pengarang (Dwi Susanto) menganggap bahwa kehadiran Hikayat Siti Mariah dalam berbagai versi, merupakan wujud tanggapan pembaca. Tak terkecuali Hikayat Siti Mariah karya Pramoedya Ananta Toer. Pramoedya Ananta Toer sebagai penyambut, menurut pengarang buku ini menghilangkan seperempat bagian cerita, yang menurutnya merupakan pengulangan-pengulangan. Pengulangan-pengulangan tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan kembali kepada pembaca tentang episode sebelumnya.

Pramoedya Ananta Toer dalam tulisan ini diposisikan sebagai sosok penyambut karya Hikayat Siti Mariah. Dalam disiplin ilmu filologi, tradisi salin-menyalin sudah biasa terjadi. Dalam pandangan filologi tradisional, perubahan-perubahan yang terjadi karena proses salin-menyalin termasuk penghilangan, pemotongan ataupun lompatan-lompatan kata, kalimat, frase dan episode dianggap korup dan merupakan sebuah kesalahan. Dalam pandangan filologi modern, segala bentuk perubahan bukan dianggap sebagai kesalahan namun adalah bentuk kreativitas. Metode yang digunakan Dwi Susanto adalah metode perbandingan naskah yang dikaji secara intertekstual, eksistensi pengarang, dan historis karya. Buku Hikayat Siti Mariah: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer karya Dwi Susanto ini menarik untuk dibaca.

*Siti Muslifah, Mahasiswa Jurusan Sastra Daerah, Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Universitas Sebelas Maret. Lansir dari: ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA. Vol 13, No 1. Edisi Juni 2010.

*Rehal buku: Hikayat Siti Mariah: Estetika Perselingkuhan Pramoedya Ananta Toer/ Dwi Susanto/ INSISTPress, 2009.