Masihkah Sekolah Diperlukan?

Masihkah Sekolah Diperlukan?*

Siapa sangka bila pabrik besar bernama sekolah yang diagung-agungkan negara sebagai institusi pendidikan formal yang meniscayakan kualitas siswa yang unggul dan berkompetensi, dalam realitasnya justru menjadi biang kerok pembelengguan kreativitas siswa dan pembunuhan karakter? Siapa sangka sekolah di kemudian hari justru hanya akan melahirkan “produk” setengah jadi?

Jika demikian, apa tidak sebaiknya sekolah dibubarkan saja? Demikianlah keresahan Chu-dhiel yang saya tangkap dari buku berjudul Sekolah Dibubarkan Saja! Bagi Chu-diel, sekolah merupakan institusi pendidikan formal yang hanya menjebak orang-orang untuk masuk ke dunia penuh khayalan karena mereka hanya disibukkan dengan belajar di kelas sembari membayangkan hal-hal yang mereka pelajari tanpa adanya aktualisasi diri di masyarakat ke depannya (halaman 22).

Sekolah hanyalah institusi kapitalis yang menciptakan peraturan-peraturan aneh (seperti adanya seragam, jadwal belajar, dan cara belajar) yang terkadang bagi sebagian rakyat miskin, justru hanya akan menimbulkan petaka berupa kesia-siaan belaka tanpa makna.

Hal seperti ini dibuktikan Rio, anak Desa Jorong Sikabu Nagari Singgalang Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatra Barat. Ia lebih senang menikmati profesinya sebagai penggembala sapi, sambil beternak dan bertani di ladang yang menjadi rutinitasnya dalam menjalani hidup, ketimbang harus capai-capai ke sekolah yang tak jelas tujuan akhirnya (halaman 5-6).

Meski demikian, ini hanyalah gagasan kritis Chu-dhiel dalam menyikapi realitas pendidikan bangsa ini. Setiap orang boleh saja menyetujuinya, dan boleh juga tidak sepakat dengan pendapatnya.

Toh, faktanya sampai detik ini, pemerintah Indonesia masih memandang sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang masih memiliki peranan penting bagi keberlangsungan generasi bangsa ke depan karena sekolah –bagi kalangan sekolah dan pemerintah- merupakan kawah candradimuka menuju terbentuknya masa depan anak bangsa yang cerdas, aktif, dan kompetitif.

Sah-sah saja untuk meniadakan sekolah jika memang realitasnya seperti apa yang diungkap oleh Chu-diel. Faktanya, sekolah selama ini memang cenderung hanya mengutamakan aspek kognitif tanpa mempertimbangkan aspek afektif dan psikomotorik.

Faktanya sekolah selama ini hanyalah institusi eksklusif yang coba mengotak-ngotakkan golongan tertentu lantaran sekolah memang butuh biaya, dan pada akhirnya kaum miskin pun hanya disuruh “gigit jari”. Dengan demikian, sekolah pun terkesan feodal bagi siswa.

Banyak menuntut, tetapi tidak memberikan kebebasan berkreasi. Di sinilah pentingnya sikap kritis kita untuk tidak sekadar gegabah menuruti kehendak aturan main pemerintah yang sarat akan feodalisme tanpa mempertimbangkan dampak yang akan kita terima di kemudian hari, terutama bagi rakyat miskin.

Lantas, jika realitasnya sekolah hanya mampu memproduksi barang setengah jadi, apa memang sekolah masih diperlukan?

*Ammar Machmud (peneliti Idea Studies Semarang). Lansir dari: Koran JakartaKamis, 14 Oktober 2010.

*Rehal buku: Sekolah Dibubarkan Saja!/ Chu-diel/ INSISTPress, 2010.