Ternyata Lebih Asik Tanpa ‘Sekolah’*

Judul provokatif itu terinspirasi dari kisah perjalanan tiga anak di “sekolah” alternatif Qoryah Thoyibah di bawah asuan Bahrudin. Diceritakan di sana bahwa ada tiga anak didiknya yang sedang melakukan penelitian akhir dengan diam-diam memutuskan mengikuti Ujian Nasional. Ketiga anak itu mendapatkan nilai cukup bagus di ujian nasional. Selain itu, dalam wkatu bersamaan ketiga anak yang bernama ina Afidatussofa, Naylul Izza, dan Kana itu juga menghasilkan karya tulis yang disebut disertasi dengan judul “Lebih Asyik Tanpa UN.” Mereka melakukan wawancara dengan orang-orang terkait penyelanggara UN dan menakjubkan karena hasil ulisan itu sudah dipublikasikan oleh LKiS Yogyakarta (Baca Suara Merdeka 18/3/2008). Bagi kita, kebaranian itu adalah melampau usia mereka yang masih remaja fase awal (SMP).

Ketika saya menuliskan judul di atas juga sedikit paradok bagi beberapa teman sebab saya sendiri telah mengenyam pendidikan formal dari SD, SMP, SMU, Perguruan Tinggi sampai dua kali S2 di dalam dan di luar negeri. Seolah membuktikan bahwa sekolah adalah candu (Baca buku Roem Topatimasang, sekolah itu candu, 1998). Sekolah adalah reproduksi kelas yang mampu dan mempunyai kesempatan sementara yang tidak mampu (secara finansial) harus mengakhiri sekolah semenjak usia dini. Tetapi di sini saya mencoba untuk merefleksikan diri perjalanan di sekolah-sekolah bertembok besar dan berpagar tinggi itu. Lalu, saya ingin mengatakan bahwa ternyata saya lebih banyak belajar dan beraktualisasi di luar sekolah. Saya juga ingin mengatakan ternyata lebih asik di luar pagar sekolah dan ujungnya adalah bahwa lebih bahagia tanpa sekolah. Bagaimana ‘thesis’ ini dapat dpertanggung jawabkan. Berikut adalah refleksi singkat saya. Semoga ada manfaat.

Ketika Sekolah Dasar

Saya, mungkin, adalah orang yang paling tidak bahagia duduk berlama-lama di kelas pada saat sekolah dasar. Banyak hal yang tidak saya suka mulai dari Bapak/Ibu guru yang diskriminatif terhadap siswa, anak-anak kelas menengah kampung yang selalu berlomba membawa perlengkapan sekolah, tas bagus, sepatu, dan sebagainya. Mereka adalah jagoan kelas baik secara akademik maupun secara fisik. Sementara saya, tentu saya anak petani biasa dan memilih bergaul di luar pagar sekolah dengan binatang ternak, sapi, petani di sawah, pencari ikan di sungai, dan orang-orang yang tinggal di gubuk di tegalan. Karena ini pengalaman pribadi, saya tidak bermaksud mengeneralisir tetapi hendak mengatakan bahwa sekolah itu sama sekali bukan tempat yang membahagiakan. Sama sekali tidak. Pramuka yang mengajarkan lagu disini senang di sana senang hanyalah omong kosong sebab situasi kami tidak sama dengan anak-anak yang pulang pergi sekolah dalam keadaan kenyang.

SMP dan SMU

Keadaan tidak pernah berubah. Pada tahun-tahun 1995-2002 bagi saya, sekolah tetap sebagai ajang berkumpul dan bersenang-senang para siswa yang mempunyai kelas sosial mapan. Mereka mempunyai habitus yang sudah melekat sebagai kelompok ‘terdidik’, terhormat dan secara ekonomi berkecukupan. Wajar saja selalu, para bintang kelas merepresentasikan mereka dan bukan dari kami yang hanya jagoan berenang, berlari, memanjat pohon, bersiul keras, karena kami juga tidak pernah punya buku selain buku tulis. Kejadian ini sama sejak SD tetapi waktu sekolah SMA keadaan lebih baik tetapi tetap saja kalah start dengan anak-anak kota yang sudah biasa memakan buku (kutu buku). Akhirnya saya lebih memilih egiatan di luar sekolah baik yang sama sekali gak ada hubunganya dengan sekolah maupun kegiatan exstra sekolah. Saya aktif di sana dan sampai terpilihlah saya sebagai ketua umum OSIS di SMU N 2 Lamongan.

Dengan ‘jabatan’ ini saya selalu punya alasan untuk tidak mengikuti pelajaran di sekolah. Kelas 2 masuk kelas IPA adalah sesuatu yang mewah tetapi kering bagi saya sehingga saya ingin memilih kelas IPS. Karena nilai semakin memburuk nilai di kelas IPA saya pun pindah ke kelas IPS. Bapak Ibu guru BK/BP tidak senang dengan keputusan saya. Konon kelas IPA lebih bagus dan lebih ‘prestisius.’ Mohon maaf, jika ada bapak ibu guru saya yang membaca karena saya mengatakan itu hanya  ‘hipotesis’ kalau tidak dibilang omong kosong. Saya kira anak-anak IPA itu hanya disiapkan menjadi pekerja dengan gaji tinggi dan status sosial baik. Tidak ada hubungannya dengan kemaslahatan orang dan kepedulian terhadap orang yang kurang beruntung. Karena itu, saya menolak hipotesis tanpa bukti itu. Walau demikian, saya belajar beroganisasi melalui OSIS bukan melalui pelajaran di dalam kelas yang pengap.

Parahnya, sekolah ini tidak menjadikanku gemar membaca! hanya gemar mengerjakan PR karena terpaksa.

Kuliah di UGM

Tidak banyak anak kampung, anak udik, anak buruh tani bisa masuk UGM dengan gampang. Perjuangan sangat berat dan menantang.Akhirnya saya masuk UGM melalui tes UM UGM dengan jumlah sumbangan 0 rupiah. Karena nol srupiah saya harus diinvestigasi oleh panitia seleksi masuk UGM. Kalau gak salah waktu itu wakil rektor UGM yang berceramah bahwa kita semua sudah untung masuk UGM maka disarankan jangan menyumbang dengan NOL RUPIAH. Karena UGM dan negara sudah mensubsidi banyak katanya. Seingat saya konon setiap semester kuliah di UGM tahun 2003 itu menghabiskan subsidi negara 9 sampai 15 juta per mahasiswa. Saya tidak pernah mikir khutbah tersebut saya hanya ingin masuk UGM kalau ditolak saya tidak bunuh diri, dunia juga akan baik-baik saja tanpa saya menjadi mahasiswa UGM.

Para aktifis BEM dan organisasi lain siap-siap menadvokasi kita semua. Saya senang sekali banyak tawaran bantuan advokasi. Saya pun tetap masih PD pada hari daftar ulang tahun tersebut. Hanya jujur, tetap ada harap-harap cemas apalagi saya sudah tidak kuliah selama satu tahun mengembara di Pare Kediri. Saya sudah siap-siap segala dokumen keterangan dari RT/RW/Kepala desa/camat bahwa saya tidak mampu emmbayar SPP apalagi sumbangan puluhan juta. Akhinta saya di ACC masuk UGM, beberapa teman dan orang tua banyak berlinang air mata di samping kana kiri karena gak bisa membuktikan bahwa mereka miskin. Awal masuk kampus, yang menyedihkan. Bagaimana saya menemukan bahagaia dan asik sekolah? belum ketemu jawabannya.

Tetapi, saya terus berharap bisa keluar dari kampus dengan pengetahuan yang layak. Tetapi entahlah, merasa tidak mendapatkan apa-apa setelah  4 tahun kuliah. Bacaan-bacaan yang membebaskanku seperti sekolah candu, pendidikan populer, gagasan Paulo Friere dalam beberapa judul buku sepeti politik pendidikan, pendidikan orang tertindas, memprovokasi saya untuk keluar dari penjarah kampus/sekolah UGM. Hampir saya tidak lulus. Karena orang tua memimipikan saya wisuda dan ingin mereka datang, maka saya pun menuruti dengan menyelesaikan skripsi semampu dan sebisa, plus sesantai mungkin. Akhirnya, selesai.

Habis kuliah di UGM, tidak jelas mau ngapain. Saya mengalami disorientasi dan tidak punyai pemikiran lebih maju selain ikut beberapa aktifitas LSM (sejak masih mahasiswa) dan ormas terbesar di Yogyakarta. Mencari pekerjaans seadanya  untuk bisa survive di perantauan dan bisa membantu orang tua. Ijazah pun belum sempat saya pakai saya sudah nekat mengikuti program S2 Ilmu Politik di UGM. Intinya, saya tidak bahagia di kampus tetapi masih penasaran dapat apa kalau sudah s2? akhirnya hampir S2 berakhir saya pun masih tidak punya pekerjaan artinya tidak laku mungkin. Atau karena pasar tidak mendekatiku karena ilmuku IPS bukan IPA. Karena ini, saya berjanji tidak menemui guru BK/BP SMA saya karena saya menganggur walau masih mahasiswa. Saya pun lebih asik pada kegiatan sosial yang non profit. Kadang mbambung kemana-mana tidak jelas tetapi saya belajar dari lingkungan. Dalam batasan tertentu saya setuju pada perkataan bahwa semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah. Saya pun bahagia dengan pembelaan filosofis tersebut.

Kesimpulan masih sama. Sama-sama parahnya, yaitu kampus sebesar UGM ini tidak menjadikanku gemar membaca! hanya gemar mengerjakan tugas karena terpaksa. Kegemaran membacaku bukan karena tugas kampus tetapi karena saya harus berbagi pengetahuan dengan teman, sesama, di luar kampus.

Coba-coba Rasa sekolah di Luar Negeri

Tidak ada sprit untuk lulus S2 pada saat itu karena saya tahu banyak S2 di negeri ini. Banyak mereka mendapatkan pekerjaan yang tidak ada korelasinya dengan disiplin ilmu di universitas yang digeluti. Di tengah kegaluan ini saya ketemu dengan beberapa orang yang bicara bahwa lulusan sekolah luar negeri itu sangat laku di dalam negeri. Mungkin maksudnya punya privilage tertentu. Saya pun penasaran dibuatnya. Dalam hati kecil, mungkin saya harus mencoba. Dengan bekal ijazah S1 dan sertifikat cumlaude serta aktifitas sosial lainnya saya sangat percaya diri untuk melangkah merebut beasiswa. Proses seleksi ini pun membuat orang tidak bahagia karena harus berharap dan cemas. Manusiawi saya kira. Saya pun begitu walau tidak teramat perih. Proses mencari sekola, memang menyusahkan. Kita lihat saja sekarang. Bagaimana orang tua mau membayar joki, melakukan apa saja, untuk agar anaknya diterima di kampus/sekola dasar bahkan.

Aku pun berhasil merebut beasiswa IFP yang konon untuk orang-orang marginal/terpinggirkan secara ekonomi dan politik. Pada saat itu wawancara pun harus menggadaikan rahasia nurani saya di mana saya harus menceritakan kehidupan keluarga dan dengans egela pahir getir di dalamnya untuk meyakinkan bahwa saya ini anak tertindas baik psikologi maupun ekonomi sejak dalam kandungan. Dramatis memang, tetapi itu dalam rangkah merebut dan memasuki dunia baru: sekolah di Amrika boy, yang konon prestisius dan bahkan dikatakan oleh beberapa tim seleksi, akan mengubah hidup saya. Tapi bagi saya itu semangat, itu doa yang akan menolang saya bisa survive minimal saya bisa berdamai dengan diri saya sendiri.

Saya pun, di penghujung tahun ini akan mendapatkan ijazah luar negeri yang pertama (insyallah ada yang kedua, karena masih penasaran belum tahu hebatnya apa lulusan luar negeri). Saya pun masih pada kesimpulan bahwa sekolah itu mengungkung, menindas dan sama sekali tidak membagaiakan walau sekolah itu lokasinya di surga sekalipun. Mungkin juga karena itu, Nabi Adam dan Hawa tidak dibuatkan sekolah di surga sebab takut kebebasannya akan hilang. Ketika bebas, mereka makan buah apel, dan di usir ke bumi. Di sanalah kedua manusia itu belajar. Belajar sebagai manusia yang sebenarnya bukan ahli surga yang hanya leyeh-leyeh, santai saja. Nabi Adam itu mengajari saya sekolah alam dan harus bisa survive di bumi yang keras, seram, berkabut, salju, dan berapi. Karena saya menusia keturunan Adam, maka saya ingin mengatakan bahwa sekolah itu tidak asik. Saya ingin mengatakan bahwa lebih bahagia tanpa sekolah.

*Oleh: Iqra Garda Nusantara | Sumber: hismag.wordpress.com – 10 Agustus 2012.

*Rehal buku: Sekolah Itu CanduRoem Topatimasang/ INSISTPress, 1998.