Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba

Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba*

Selama ini, Orang Rimba atau suku-suku yang hidup di pedalaman kerapkali diidentikkan sebagai kumpulan manusia yang barbar, primitif, biadab, bodoh, dan sederet labeling negatif lainnya. Permukiman yang jauh di pedalaman, seolah-olah membenarkan stigma yang telanjur melekat bahwa mereka antiperubahan dan mengisolasi diri dari perkembangan zaman yang semakin modern. Hal inilah yang memunculkan rentangan jarak yang terlampau jauh antara Orang Rimba dengan Orang Terang–orang-orang yang bermukim di luar pedalaman.

Di satu sisi, Orang Rimba bersikap apriori dan menganggap Orang Terang sebagai perusak alam, penipu, pembawa malapetaka dan kutukan. Di sisi lain, seperti tidak ada upaya dari Orang Terang untuk membantu memberdayakan Orang Rimba yang semakin termarginalkan oleh arus zaman yang semakin kompetitif dan terus bergerak. Kesan yang justru muncul, terjadi semacam pembiaran, terutama oleh para birokrat, agar Orang Rimba tetap bodoh dan terbelakang, sehingga mudah dibohongi, seperti saat terjadi transaksi jual-beli hasil hutan, perjanjian batas wilayah, tata kelola hutan, dan pembalakan liar.

Butet Manurung, seorang gadis Batak lulusan FISIP UNPAD, merasa tergugah untuk berkontribusi memberdayakan Orang Rimba melalui jalur pendidikan. Mula-mula, ia bekerja pada WARSI (Warung Informasi Konservasi) sebagai fasilitator pendidikan bagi Orang Rimba di Cagar Biosfer Bukit Duabelas (sekarang Taman Nasional Bukit Duabelas). Sebagaimana pepatah tak ada laut yang tak bergejolak, begitu pula yang dialami Butet dalam upayanya membelajarkan Orang Rimba. Ia dituduh sebagai misionaris, pembawa malapetaka dan kutukan, diintimidasi cukong pembalakan, mengalami malnutrisi, bahkan nyaris dibunuh oleh seorang perempuan rimba karena dicurigai hendak merebut suaminya. Butet sempat bimbang akan tantangan pekerjaan yang dengan sadar dipilihnya sendiri. Lebih-lebih karena tekanan ibunya yang menginginkan ia keluar dari pekerjaan yang dianggap aneh dan tidak menjanjikan masa depan. Namun seperti kata Leonardo da Vinci, “Rintangan tak dapat menghancurkanku.  Setiap rintangan akan menyerah pada ketetapan hati yang kukuh,” Butet akhirnya sadar dan percaya, inilah jalan yang Tuhan tunjukkan kepadanya untuk berbuat, untuk berjuang.

Agar dapat memahami karakter Orang Rimba dan mendapat kepercayaan mereka, ia menolak tinggal di tenda atau pondok yang disediakan WARSI. Ia lebih memilih tinggal bersama Orang Rimba dan memakan apa pun yang mereka suguhkan, termasuk daging yang lazimnya diharamkan oleh Orang Terang. Rupanya, keputusan Butet tersebut menjadi jalan pembuka kepercayaan dari Orang Rimba.

Berbeda dengan fasilitator pendidikan WARSI sebelumnya, yang meninggal karena malaria, Butet tidak menawarkan pendidikan kepada Orang Rimba. Sebaliknya, ia berbuat sedemikian rupa agar Orang Rimbalah yang memintanya memberikan pendidikan. Misalnya, saat Orang Rimba tengah menyanyikan 30 baris lagu rimba, Butet merekamnya dalam tape recorder, kemudian mencatatnya. Ketika ia dengan mudah melafalkan lagu rimba sambil membaca catatannya, Orang Rimba terheran-heran dan bertanya, bagaimana ia bisa begitu mudah melakukannya, sementara ia baru saja mendengarkan lagu rimba tersebut? Butet pun bersenang hati menjelaskan fungsi tape recorder dan menulis. Kali lain, Butet menggambar aneka binatang hutan dan memberi keterangan dengan bahasa rimba di bawahnya. Atau memamerkan buku cergam dan dongeng untuk anak-anak, yang kemudian diamati secara kagum dan antusias oleh Orang Rimba. Hal itu yang terus disusul kesempatan-kesempatan lain, semakin menumbuhkan minat Orang Rimba, utamanya anak-anak, untuk mempelajari hal-hal yang menurut mereka menakjubkan. Namun, Butet tetap bergeming, diam menunggu, hingga akhirnya mereka berujar, “Ibu, beri kami sekolah!”

Buku ini dituturkan oleh tangan pertama, artinya penulis sebagai orang yang mengalami dan menyaksikan langsung, karena itu isi buku ini sangat meyakinkan. Lebih-lebih karena bahasa yang digunakan penulis cenderung denotatif, santai, segar, dan tidak berbelit-belit. Dalam hal ini, pembaca akan dapat menebak bahwa penulis bukanlah tipikal perempuan sentimentil yang gemar merumitkan masalah dan mengungkapkan isi hati secara mendayu-dayu. Sebaliknya, pembaca akan menemukan sisi maskulinitas seorang perempuan yang lebih suka menyikapi masalah secara sederhana dan mengedepankan akal sehat. Hal lain yang patut dipuji adalah penyuntingannya yang rapi dan teliti. Dari halaman muka sampai akhir buku, nyaris tidak ditemukan salah ketik atau pun susunan bahasa yang janggal–meskipun bahasa yang digunakan adalah semibaku.

Yang lebih menarik, buku yang dicetak menggunakan kertas HVS ini, dilengkapi dengan 25 foto berwarna mengenai aktivitas sokola atau sekolah (termasuk foto profil penulis) hasil dokumentasi banyak pihak. Juga dua peta lokasi rombong dan ladang Orang Rimba, dokumentasi WARSI. Kesemuanya amat menarik pandang! [Thomas Utomo]

*Thomas Utomo bekerja sebagai guru SD Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Sumber: annida-online – 31 Desember 2012.

*Rehal buku: Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba/ Butet Manurung/ INSISTPress.