Memahami Kretek dari Banyak Aspek

Memahami Kretek dari Banyak Aspek*

Sejarah panjang kretek: budaya, ekonomi, perlawanan.

Kretek mempunyai jejak sejarah yang teramat panjang di Nusantara. Penanda awal mungkin ada pada kisah Roro Mendut yang berjualan kretek untuk bisa membayar pajak pada Kerajaan Mataram. Lalu Haji Djamhari memulai industri kretek di Kudus pada abad ke-19. Saat itu Djamhari, yang punya penyakit asma, biasa mengoleskan minyak cengkeh di dadanya.

Ternyata kebiasaan ini membuatnya sembuh dari asma. Mulailah ia mencampurkan cengkeh pada tembakau untuk dirokok. Bunyi “kretek-kretek” yang muncul dari bunyi cengkeh yang dibakar lantas dijadikan penamaan rokok asli Nusantara ini. Sejak itu, sejarah kretek dimulai. Namun, sekitar 10 tahun belakangan, muncul “pertempuran” antara industri farmasi melawan industri rokok. Propaganda tentang bahaya rokok semakin kuat. Kretek pun terkena dampaknya.

Ironis, kretek yang awal mulanya digunakan sebagai obat dan dijual di apotek, sekarang dianggap sebagai barang yang bisa menimbulkan penyakit. Jurnal Wacana berjudul Kretek Sebagai Warisan Budaya ini memberikan pandangan kritis dan komplet yang dibutuhkan untuk memberikan pemahaman yang lengkap mengenai kretek. Pengantar Hairus Salim HS cukup menohok kaum kontra rokok. Hairus menuliskan kampanye antirokok yang sangat gencar selama satu dekade terakhir telah mengaburkan sejarah.

Kretek yang sejak awal menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara, kini dijadikan musuh, tanpa punya pengetahuan apa pun soal kretek. Padahal, Hairus mengutip Mark Hanusz, “Kretek ada di mana-mana dalam keseharian masyarakat Indonesia dan dapat ditemukan di berbagai acara. Mulai dari upacara adat, hingga proses pembuatan karya seni dan sastra.”

Hanusz adalah penulis kebangsaan Swiss yang menulis buku Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarette. Sebagai bunga rampai tulisan, terbitan ini berhasil merangkum banyak hal yang menjadi perdebatan antara kaum pro kretek dan kelompok penentang rokok. Dari soal kajian ekonomi, wacana, sejarah, hingga sebagai simbol perlawanan.

Ghifari Yuristiadhi, mahasiswa pascasarjana sejarah Universitas Gadjah Mada, menulis tinjauan sosiohistoris tentang kretek sebagai warisan budaya. Ia menulis, kretek seharusnya ditinjau tak hanya dari aspek kesehatan, tapi juga dari sisi sosiologis. Ini karena hingga sekarang, kretek yang merupakan karya asli pribumi, masih ada dan menghidupi sebagian besar masyarakat Indonesia yang tinggal di kota penghasil kretek.

Ghifari juga memberikan perspektif menarik mengenai sejarah tembakau dan kretek, dari era Kerajaan Majapahit, kedatangan pelaut Portugis, hingga masa kolonial. Terbitan ini juga menghadirkan tulisan Melissa C Mitchell, mahasiswa master di Universitas George Mason.

Tulisan ini merupakan nukilan dari tesis Melissa, “The Political Economy of Tobacco in Indonesia: How ‘Two Fires Fell Upon the Earth” yang meraih penghargaan sebagai karya terbaik bidang antropologi di kampusnya pada 2012-2013. Berbicara mengenai kretek, tak akan lengkap tanpa membicarakan aspek politis nya. Apalagi jika bukan perang propaganda antakomunitas kretek melawan gerakan antirokok. Ini dibahas panjang lebar, termasuk dari segi aspek perundang-undangan, oleh Ishak Salim, mahasiswa doktoral ilmu politik di UGM.

Hasyim Asy’ari, dosen Universitas Diponegoro, dan GG Weix, profesor antropologi dari Universitas Montana, membahas tentang Kudus, kota yang sangat bersejarah sebagai tempat kelahiran kretek. Dari dua tulisan berbeda, keduanya memberikan pemahaman betapa kretek punya sejarah panjang, lekat dalam ritus sehari-hari, serta menghidupi kota dan masyarakatnya.

Selepas membaca buku ini, pembaca bisa menyadari dan memahami bahwa persoalan kretek bukan melulu mengenai rokok atau kesehatan. Melainkan juga budaya, sejarah panjang Nusantara, simbol perlawanan, hingga sesuatu yang menghidupi. [*]

*Aunurrahman Wibisono | *Dipublikasikan pertama kali di Majalah GEO TIMES – Sabtu, 7 Maret 2015.

*Rehal Jurnal WACANA Nomor 34/2014 | Kretek sebagai Warisan Budaya