Resensi Evolusi Pendidikan di Indonesia

Resensi Evolusi Pendidikan di Indonesia*

Dahulu Kala, bermacam sanjungan dan pujian dilimpahkan kepada seorang Guru, Posisi Guru dianggap sebagai profesi yang berkelas bahkan menjadi sesuatu yang harus di banggakan dalam tubuh masyarakat.

Sayangnya, saat ini Profesi seorang guru mulai tidak di pandang terhormat, sudah mulai banyak cacian sinis dan kredibilitas seorang guru sebagai pendidik mulai di ragukan.

Ada Apa Dengan Guru ? Kenapa Masyarakat mulai meragukan seorang guru ? kejadian ini sangat berkaitan dengan lembaga pendidikan yang memebntuk para pendidik. Hal tersebut merupakan landasan seorang Mochtar Buchori dalam menulis buku ini “Evolusi Pendidikan di Indonesia, Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998”

Lembaga pendidikan di zaman hindia belanda dengan zaman jepang tentu berbeda. Lembaga pendidikan pertama yang di bentuk oleh pemerintah belanda adalah Kweekschool. Lembaga pendidikan pertama yang di bentuk oleh pemerintah Indonesia adalah IKIP. secara kelembagaan IKIP memang mandiri, tapi tetap saja beberapa sistem tetap memakai pola zaman kolonial. Buchory tidak mengungkapkan Kweekschool secara kompleks, karena hanya sebagai latar belakang dari pendidikan di Indonesia, setelah kurun waktu 126 tahun,pada tahun 1850 an, pemerintah mengembangkan pendidikan Horizontal dan Vertikal, pada segi Horizontal  pemerintah memunculkan pendidikan SLTP untuk calon guru, dan pada segi Vertikal Pemerintah memunculkan pendidikan SLTA.

Perkembangan selanjutnya semakin kompleks. Lebih-lebih ketika muncul lembaga pendidikan yang bersifat segregatif secara rasial, etnis dan sosial-ekonomis. Masing-masing merasa perlu untuk menyediakan tenaga pengajar dari kalangan sendiri. Itu sebabnya, lahir pula lembaga pendidikan guru yang bersifat eksklusif. Ketika kemudian Jepang menduduki Indonesia, terjadi penyederhanaan besar-besaran. Kebijakan Dai Nippon menyebabkan heterogenitas itu melebur.

Buchory membagi rentang waktu sistem pendidikan menjadi empat periode secara arbitrer berdasarkan semangat zaman. Pertama, periode 1945-1949. Ia menyebutnya sebagai periode rehabilitasi sistem pendidikan. Selama masa ini, kebanyakan usaha yang dilakukan adalah memulihkan kembali sistem pendidikan guru yang selama masa Jepang telah mengalami penyederhanaan.

Kedua, periode 1950-1965, sebagai periode ekspansi sistem pendidikan guru. Usaha yang banyak dilakukan dalam kurun waktu ini ialah penambahan sekolah-sekolah guru di seluruh Indonesia, yakni mulai dari sekolah guru paling bawah (Kursus Pengantar untuk Pengantar Kewajiban Belajar) sampai jenjang perguruan tinggi (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru / IKIP).

Ketiga, periode 1966-1983, sebagai periode modernisasi pendidikan guru. Perbaikan yang terjadi pada periode ini lebih difokuskan untuk memutakhir-kan (updating) kondisi pendidikan guru, misalnya pembaharuan metode-metode pembelajaran terbaru beserta penambahan perlengkapan teknologi. Melalui langkah inilah Indonesia berusaha mengejar ketertinggalan dari Negara-negara tetangga, terutama Singapura,Thailand, Malaysia dan Filippina.

Terakhir, keempat, 1984-1998, sebagai periode ambivalensi. Penting untuk dicatat, bahwa selama periode ini, lembaga pendidikan guru (IKIP) menghadapi keraguan-raguan mengenai identitas dirinya. Saat itu, lembaga pendidikan guru seolah terbelah menjadi dua, yakni identitas sebagai perguruan tinggi yang bertugas mengembangkan disiplin keilmuan tertentu (seperti matematika dan sosiologi) atau sebagai kawah candradimuka calon-calon guru baru belaka.

IKIP ingin memiliki kapasitas untuk mengembangkan disiplin keilmuan, namun di sisi lain terbentur statusnya yang masih institut.Hal ini dipicu karena

keinginan untuk menyetarakan gengsi akademik dengan Universitas. Sejak itulah banyak institut bermetamorfosa menjadi Universitas. Harapan dari perubahan ini, selain menambah penghargaan masyarakat, juga lembaga ini akan lebih yakin dalam mempersiapkan guru, serta mengembangkan pengetahuan.

Namun kenyataannya, konsep universitas ini akhirnya membuat kompetensi lembaga pendidikan guru makin kabur dan Ribet.

Akibatnya, banyak keluhan masyarakat mengenai kelemahan-kelemahan guru sekolah. Hingga kini, kekaburan konseptual mengenai makna kompetensi guru ini masih belum teratasi.

Segenap langkah telah dilakukan, namun lembaga pendidikan guru tak juga mampu menjawab tantangan zaman, apalagi menghasilkan kemajuan. Semua usaha yang pernah dilakukan hanya mewariskan persoalan baru, misalnya penurunan mutu dan kinerja guru.

Persoalan juga muncul ketika heterogenitas sosial dan cultural masyarakat yang disikapi dengan pola yang sama. Berbeda dengan dulu, dulu setiap guru ditempatkan pada sekolah yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Setelah format pendidikan sekolah Indonesia diseragamkan, persoalan yang dulu telah teratasi tersebut kini malah mencuat.

Beberapa faktor kemunduran yang lain, misalnya tidak adanya parameter untuk mutu guru, ke-ruwetan birokrasi, kurikulum maupun buku ajar yang berubah-ubah, dan beragam persoalan lain. Namun yang paling sering dikemukakan ialah faktor kesejahteraan materiil. Sabenarnya kompleksitas persoalan kemunduran guru masih banyak, dari beberapa sudah disebutkan diatas, masih ada factor yang lain.

Dengan sejarah panjang yang demikian, dapatkah kita mereka-reka unsur inti dari kemampuan mengajar bagi guru-guru kita masa depan. Kita perlu mengapresiasi pemetaan system pendidikan yang dilakukan Buchori, sebab selain bisa memberikan gambaran perjalan panjang dunia pendidikan, juga bisa kita jadikan acuan untuk melangkahkan system pendidikan kita kedepan.

Akhirnya, Buchory berpesan, Perjuangan perbaikan pendidikan bukanlah milik satu generasi, juga bukan kewajiban pemerintah saja. Persoalan ini hanya akan bisa diselesaikan secara berangsur-angsur apabila setiap generasi turut menyumbang solusi baik bersifat konkrit maupun konseptual.

*Peresensi : Shidik Kautsar. Lansir dari: www.kompasiana.com – 23 Agustus 2015.

*Rehal buku: Evolusi Pendidikan di Indonesia: Dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998/ Mochtar Buchori/ INSISTPress,  2007.