Impian Tim Sepakbola Drogba

Impian Tim Sepakbola Drogba*

Pantai Gading, negara di Afrika Barat yang terus dirundung konflik berkepanjangan. Setelah kudeta tahun 2002, negeri itu praktis terbelah dua: bagian selatan yang setia pada pemerintah dan bagian utara yang memberontak. Bahkan, setelah perang mereda dan usai, saling curiga antarwarga di kedua belah pihak tampaknya sulit untuk dihapuskan sama sekali.

Adalah Didier Drogba, kapten Tim Nasional Pantai Gading_yang juga pemain kesebelasan Chelsea. Ia bertekad untuk menyatukan kembali negerinya yang pecah itu. Sebagai kapten The Elephants, ia selalu menekankan bahwa para pemain di timnas harus mewakili berbagai kelompok suku yang ada di negeri itu—dan dia berhasil mewujudkannya; ketika tim nasional yang multietnis itu lolos kualifikasi Piala Dunia 2006, seluruh rakyat Pantai Gading bersatu gembira.

Lalu, pada tahun 2007, Drogba bergerak selangkah lebih maju lagi dengan satu gerakan sederhana tapi revolusioner: dia mengumumkan bahwa pertandingan babak kualifikasi Piala Afrika akan diselenggarakan di Bouaké, ibukota pemberontak di bagian utara yang tetap saja tak terjamah oleh pasukan pemerintah, bahkan setelah perjanjian perdamaian Maret 2007. Drogba menggambarkan keputusan itu, “Tanggal 3 Juni akan menjadi hari yang sangat dikenang. Hari itu akan menjadi hari kemenangan bagi persepakbolaan Pantai Gading, hari kemenangan seluruh rakyat Pantai Gading dan bisa dipastikan di sana akan ada perdamaian.”

Rakyat Pantai Gading, yang selama lima tahun perang saudara tidak mampu mendamaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, kini bergandengan tangan datang ke Bouaké untuk menonton pertandingan sepakbola. 25 ribu rakyat Pantai Gading bersama-sama menonton kesebelasan nasional mereka mengalahkan Madagaskar dengan angka telak, 5-0. Pertandingan itu semakin dikenang karena gol terakhir diceploskan oleh Drogba sendiri pada menit-menit terakhir. Lewat sepakbola, Drogba adalah pahlawan yang telah menyatukan negerinya.


*Info buku: Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia (INSISTPress, 2015), halaman 32-34.