Melawan

Melawan*

Delapan tahun lalu tak ada yang menyangka Irak bisa menjuarai Piala Asia 2007. Dirundung konflik berkepanjangan, persiapan tim Irak memang agak belepotan tapi Younis Mahmoud dkk; membuktikan mereka patut didukung rakyat Irak dan harapannya terkabul. Saat tim Irak menghadapi Arab Saudi di final, hampir seluruh penduduk Irak melupakan perselisihan dan permusuhan antar mereka yang sudah berlangsung bertahun-tahun. Mereka kompak mendukung tim nasional mereka dan Irak mengalahkan Arab Saudi 1-0.

Setahun sebelumnya, di Pantai Gading di Afrika Barat, Dieder Drogba berhasil menyatukan negaranya yang berantakan oleh perang saudara. Drogba yang saat itu bermain untuk kesebelasan Chelsea di London adalah juga kapten kesebelasan nasional Pantai Gading. Julukannya adalah Sang Gajah dan Sang Gajah itulah yang menyarankan agar para pemain tim nasional terdiri dari berbagai kelompok suku [yang berperang] yang ada di negaranya, dan dia berhasil mewujudkannya. Maka ketika Pantai Gading yang multi-etnis lolos kualifikasi Piala Dunia 2006, seluruh rakyat bersatu padu meneriakkan kegembiraan mereka.

Drogba melangkah lebih jauh lagi pada tahun berikutnya: mengumumkan pertandingan babak kualifikasi Piala Afrika akan diselenggarakan di Boubaké, ibukota pemberontak di bagian utara yang tak terjamah oleh pasukan pemerintah bahkan sejak perjanjian perdamaian Maret 2007. Drogba menggambarkan keputusannya sebagai “Hari ini akan menjadi kemenangan bagi persepakbolaan Pantai Gading, hari kemenangan seluruh rakyat Pantai Gading…” Dan dia benar.

Selama lima tahun perang saudara, rakyat Pantai Gading tidak mampu mendamaikan perbedaan-perbedaan di antara mereka, tapi hari itu, 3 Juni 2007, 25 ribu rakyat Pantai Gading bergandengan tangan datang ke Boubaké. Mereka menonton kesebelasan kesayangan mereka mengalahkan Madagaskar dengan angka telak 5-0. Serangkaian perayaan di seluruh negeri kemudian berlangsung berhari-hari.

Mereka menangis, larut dalam kegembiraan setelah sekian lama mereka memendam luka dalam yang tidak bisa disembuhkan oleh siapa pun dan tidak menemukan cara untuk mengobatinya, hingga Drogba membuat terobosan yang membuat rakyat Pantai Gading melupakan dan mengubur perang saudara. Salah satu koran nasional negara itu menulis kepala berita di halaman pertama dengan judul besar-besar: “Lima Gol Menghapus Lima Tahun Perang Saudaara.”

Tindakan-tindakan kecil seperti yang dilakukan Drogba semacam itulah yang dicatat oleh buku “Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran, dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia”. Buku yang ditulis oleh Steve Crawshaw dan John Jackson ini terbit 2010, dan di Indonesia baru diterbitkan bulan lalu oleh INSISTPress Yogyakarta. Diterjemahkan dengan bagus oleh Roem Topatimasang, buku ini menampung cerita-cerita dari orang-orang yang berani, dari orang-orang yang melawan untuk menghentikan kekerasan dan diskriminasi atas nama apa pun di banyak negara.

Salah satu contohnya adalah perlawawan yang dilakukan kaum perempuan di Liberia, negara tetangga Pantai Gading. Negara itu didirikan oleh para mantan budak di Amerika. Lambang resmi negara bertuliskan :Cinta akan kebebasan yang membawaku ke sini” tapi menjelang tahun 2000, Liberia sama sekali bukanlah tanah kebebasan.

Gerombolan milisi yang diongkosi oleh hasil perdagangan nasrkoba berkeliaran melukai dan membunuh penduduk. Baik tentara pemerintah dan serdadu pemberontak, sama-sama suka sekali memperkosa kaum perempuan, dan mereka kebal hukum. Ratusan ribu orang mengungsi ke negara tetangga, sementara yang tak bisa melarikan diri, terperangkap dalam kekerasan yang tak berujung.

Memasuki musim semi 2003, sekelompok perempuan lalu berinisiatif menghentikan semua kekejian di negaranya. Sekali dan selama-lamanya. Mereka melawan dengan mengenakan pakaian serba putih, lantas duduk-duduk di sepanjang tepi jalan yang setiap hari dilalui oleh Presiden Charles Taylor, pemimpin pemberontak yang menang perang dan kemudian menjadi presiden.

Awalnya aksi itu tak dianggap. Iring-iringan mobil presiden yang melintas cepat hanya menurunkan kecepatan sebentar saja untuk melihat aksi mereka, tapi para perempuan itu muncul lagi di sana. Setiap hari hingga para ulama dan para uskup kemudian mengeluarkan pernyataan untuk mendukung tuntutan para perempuan itu. Stasiun-stasiun radio pun mulai menyiarkan berita-berita tentang aksi-aksi itu.

Berbicara di depan kamera televisi, Leymah Gbowee, salah seorang pemimpin aksi menyatakan: “Kami sudah capek menyaksikan putri-putri kami diperkosa. Kami melakukan aksi ini sekarang, sebab kami yakin anak-anak kami kelak akan bertanya, ‘Mama, apa yang kamu lakukan selama masa krisis dulu?’”

Presiden Taylor menyerah. Dia menemui para pemimpin perempuan itu di Istana Kepresidenan. Beberapa minggu kemudian, perundingan perdamaian dengan para pemberontak yang berpangkalan di negara tetangga, Ghana, dimulai meski pun para penggila perang [warlods] yang datang ke ibukota negara Monrovia untuk berunding malah menyebar kekerasan baru melalui telepon-telepon genggan dari hotel-hotel mewah tempat mereka menginap.

Maka para perempuan itu kemudian bersepakat membentuk pagar betis, menutup jalan, mengadang dan melarang semua perunding keluar dari ruangan hotel sebelum mereka meneken perjanjian perdamaian. Hasilnya: para serdadu itu menyerah. Suatu kesepakatan damai diteken, dan Taylor diasingkan ke luar negeri. Beberapa tahun kemudian, Taylor diadili untuk semua kejahatan kemanusiaan dalam perang di negaranya.

Di Sudan, para perempuan membuat gerakan mogok seks untuk menghentikan perang saudara di negara mereka yang sudah berlangsung puluhan tahun. Mereka tak bersedia melayani sanggama dengan suami-suami mereka sebelum suami-suami mereka berjanji untuk berhenti menumpahkan darah, dan aksi mereka berhasil. Mogok yang sama dilakukan para perempuan di Pereira di Kolombia, salah satu tempat yang dicatat paling sarat dengan kekerasan menyusul bermunculannya geng-geng kaum lelaki muda.

Di Iran, para perempuan melawan peraturan yang dibuat para mullah dengan membungkus dirinya mirip laki-laki agar bisa menonton sepakbola di stadion. Di Israel, Yigai Bronner dan seratusan tentara menolak perintah bertugas di daerah pendudukan. Mereka adalah satuan elite pasukan khusus Israel berpengalaman tempur, tapi menentang dan menolak penafian manusia [dehumaniasi] bagi warga Palestina.

Mereka kemudian dikenal sebagai “seruvniks”, yang dalam bahasa Ibrani berarti penolakan. Di buku “Refusenik! Israel’s Soldiers of Conscience” [Tolak Bungkam! Tentara-Tentara Waras Israel] yang terbit 2004, Susan Sontag menulis “Akan selalu menjadi tindakan tidak disenangi, akan selalu dianggap patriotik, jika tentara mengatakan bahwa kehidupan warga bangsa lain yang selama ini dianggap musuh adalah sama penting dan bernilainya dengan kehidupan warga bangsa sendiri.”

Seluruh isi buku ini mencatat tindakan-tindakan kecil yang dilakukan orang-orang biasa, dari abad pertengahan, zaman Nazi, hingga abad media sosial sekarang. Dari Afrika yang murung, hingga Amerika yang sombong. Tentang perlawanan terhadap diskriminasi, kekerasan bersenjata, kecurangan pemilu dan banyak cerita lain. Semua itu bisa dilawan dan memang harus dilawan. Dan betapa pun kecilnya, tindakan-tindakan kecil perlawanan pada akhirnya terbukti dapat menghentikan perang, menyetop kekerasan bahkan menggulingkan rezim yang lalim.

Benar kata Elvis Presley, kebenaran adalah seperti matahari. Anda dapat menutupinya sementara waktu tetapi ia tak pernah hilang sama sekali. Cerita-cerita di buku ini membuktikan, matahari kebenaran memang tak bisa ditutupi. Oleh apa pun. Oleh siapa pun.

*Pengulas: Rusdi Mathari | Lansir dari www.facebook.com/rusdi.mathari – 7 Desember 2015.

*Rehal buku: Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia/ Steve Crawshaw & John Jackson/ Roem Topatimasang/ INSISTPress, 2015.