Sekolah Sebagai Kisah Surealis*

Sekolah Sebagai Kisah Surealis*

Mesin jahit bertenaga listrik siang itu di sebuah rumah panggung, sesekali jeda bila Hukma berhenti menekan pedal power di bawah mejah mesin jahitnya. Sejenak, ia memerhatikan ulang pola baju pesanan pelanggannya yang sedang dijahit. Sesekali pula ia menoleh atau berdiri untuk memastikan anak perempuan semata wayangnya, Kurni, suntuk belajar di ruang tamu.

Hukma hanyalah lulusan sekolah dasar (SD) dan tidak sempat melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi karena situasi ekonomi yang, menjadi alasan jamak beberapa sejawatnya sehingga tidak melanjutkan sekolah di dekade 70 an. Satu hal yang bisa dilakukan sebagai aktivitas, ialah membantu orangtua di sawah atau di kebun. Meski disaat bersamaan ada juga generasi seangkatannya tetap bersekolah. Mereka tentu dari kalangan mapan dari  ekonomi.

Di sela masa bercocok tanam, Hukma dan kerabatnya yang tidak bersekolah fomal lagi mencoba kesibukan baru dengan merajut benang untuk dijadikan bermacam keperluan. Misalnya saja, taplak meja atau cipo-cipo, topi khusus perempuan, utamanya yang telah menunaikan ibadah haji.

Hukma meyakini kalau keahliannya menjahit hingga sekarang ini bermula dari kegiatan merajut itu. Di dekade tahun 80 an, ia mengikuti sepupu dari emaknya ke Ujung Pandang, nama administratif ibu kota Sulawesi Selatan saat itu sebelum ditetapkan Makassar setelah reformasi.

Selanjutnya, di tapak hidup yang dijalaninya hingga ia mejadi seorang ibu, menjahit tetap merupakan pekerjaan utamanya. Ia menjadi tulang punggung untuk memastikan beberapa adiknya agar tetap sekolah sebelum kemudian tugas itu terus ia emban setelah memiliki anak.

Kegetiran di masa lalu karena tak bisa bersekolah adalah dendam. Ia tak ingin anaknya berhenti bersekolah hanya persoalan uang. Hasil dari usaha menjahitnya merupakan tabungan pendidikan si buah hati. Meski suaminya juga memiliki pendapatan, tetapi ia selalu saja harus memastikan semuanya berjalan dengan baik.

Walau tidak dikatakan. Jelas, kalau Hukma tak ingin anaknya mengulang narasi hidupnya selaku penjahit. Ia ingin anaknya berhasil dan sukses. Ya, berhasil dan sukses. Seperti anak-anak yang lain, tentunya.

Tak jauh dari rumah Hukma, masih di lokasi yang sama, Desa Kabba, Kecamatan Minasatene, Pangkep. Abdul Asis, ayah dua orang anak. Pagi-pagi sekali, sama dengan apa yang dilakukan petani di desa itu, sudah berangkat ke sawah memanen padi yang sudah mulai menguning.

Di tengah mulai masuknya teknologi pertanian, Asis tetap memotong padi sendiri menggunakan sabit dan alat perontok padi sederhana. Arwan, anak lelakinya yang kini duduk di bangku sekolah kejuruan di SMK Muhammadiyah Bungoro, akan membantunya sepulang sekolah.

Asis tidak mau menggunakan jasa kendaraan perontok padi. Tujuannya, agar hasil tidak terbagi lagi. Ia kukuh memilih cara manual saja. Untuk apa? Apalagi kalau bukan jaminan bagi biaya sekolah kedua anaknya. Walau biaya sekolah sudah gratis SPP, tetap saja keperluan yang lain penunjang kegiatan sekolah tetap membutuhkan uang.

Harga beras yang dijualnya ke penggilingan padi hanya senilai Rp. 6.500,- sekilonya. Ia sudah melakukan kalkulasi sebagaimana pengalaman panen yang sudah-sudah. Tidak ada pilihan lain. Sawah yang digarap juga bukan milik pribadi sehingga harus bagi hasil dengan pemilik lahan.

Sama dengan Hukma. Walau tidak dikatakan. Asis tak mau kedua anaknya berjalan di rel yang sama dengan perjalanan hidupnya. Pada sekolah, ia berharap anak-anaknya tumbuh sukses dan menjauh dari lumpur sawah. ***

Fragmen di atas bukan realitas dalam novel atau cerpen. Itu kisah realis di sekitar kita, atau malah, kita sendirilah pelaku kisah-kisah semacam itu. Terdengar surealis, memang, sebab bagaimana mungkin bisa dinalar kalau seorang petani yang memeroleh uang dari hasil bertani guna menyekolahkan anaknya hingga sarjana, misalnya, menolak anaknya menjadi petani kembali. Dan, si anak sarjana itu pun, hasil gemblengan di universitas, bangga menetapkan cita-cita ingin menjadi pegawai saja.

Bisakah ini diterima. Atau bukankah sikap demikian sangat bertentangan dengan apa yang telah diupayakan. Sekolah anak selesai dari usaha bertani dan menghendaki si anak menemukan hidupnya sukses dengan menjauh dari pertanian. Serupa dengan Hukma, yang jelas-jelas dengan menjahit dapat menambal hingga menutupi kebutuhan hidup keluarga dan anaknya kemudian mendamba jalan kesuksesan yang lain untuk sang anak.

Sekolah yang secara harfiah, ialah waktu luang atau waktu senggang menjelma menjadi lembaga mitologi sosial modern. Di buku Sekolah Itu Candu (INSISTPress, 2018), Roem Topatimasang menunjukkan perkembangan makna lembaga sekolah dari waktu ke waktu.

Skhole, scola, atau schola. Bahasa Latin, memang merujuk pada waktu khusus untuk belajar. Roem mengulang kembali kebiasaan orang-orang Yunani masa lalu yang sengaja mendatangi seseorang yang dikenal pandai untuk belajar hal yang dianggap perlu untuk bekal hidup.

Jadi, apa yang dilakoni Hukma di masa kecilnya dengan merajut benang atau ikut keluarganya ke kota belajar menjahit, jelas merupakan bersekolah. Bahasa Indonesia mengadopsinya dari kosa kata Inggris, school.

Justru hari ini, sekolah modern sejak Jhon Amos Comenius merumuskan ulang metode scolae secara sistematis dengan motode khusus menjelma menjadi lembaga mitologi akan harapan nasib sukses. Selanjutnya, di abad ke 18, Johann Heinrich Pestalozzi menjadikan gagasan Comenius sebagai pijakan dasar mengembangkan ulang pelembagaan sekolah yang terus berevolusi. Namun, sifatnya sama, menjadi lembaga sosial yang menawarkan mitologi baru bagi manusia modern.

Ivan Illich, di tahun 1971 menerbitkan buku, oleh Guardian disebutnya sedang mengganggu ketenangan berpikir umat manusia. Deschooling Society, judul buku itu. Buku ini pertama kali terbit di Indonesia di tahun 1982 dengan judul Bebas dari Sekolah.

Di tahun 2000, terbit edisi revisinya, masih terbitan Yayasan Obor Indonesia, dijuduli Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah yang diterjemahkan A Sonny Keraf, Menteri Lingkungan Hidup di Kabinet Persatuan Nasional Gusdur periode 1999-2004.

Pemikiran pendidikan Illich sejurus dengan Paulo Freire, Everet Reimer, dan Erich Fromm. Mereka memang terlibat dalam proyek prestius di dekade 70 an, tapak tahun di mana Hukma dan beberapa seangkatannya harus berhenti bersekolah formal. Illich dengan pemikir sosial yang lain sedang melakukan konsentrasi perancangan ulang arah pendidikan. Berpusat di Cuernavaca, Meksiko, sejumlah pemikir sosial tergabung dalam Centre for Intercultural Documentation (CIDOC).

Segala aksi pendidikan alternatif yang kini banyak digerakkan pegiat sosial atau lembaga indpenden menerima ilham dari pemikiran tokoh tersebut. Tetesan pemikiran Paulo Freire yang mendasarkan pendidikan sebagai aksi penyadaran menjadi dasar melawan kapitalisme pendidikan yang menggerogoti lembaga sekolah.

Di Indonesia, sekolah dari jenjang dasar hingga universitas menjadi lembaga yang terus dilingkupi paradoks. Tiga fungsi utama sekolah yang diadopsi dari teori Benyamin Bloom, dikenal dengan taksonomi pendidkan, yakni membentuk watak dan sikap (affective domain), mengembangkan pengetahuan (cognitive domain), dan pelatihan keterampilan (psychomotoric domain).

Justru menjadi akar masalah yang mencuat. Jika membentuk watak dan sikap, mengapa pelaku korupsi didominasi dari kalangan yang sekolahnya tinggi. Begitu pula dengan pengembangan dan penyemaian pengetahuan, bukankah lulusan sekolah termasuk menambah daftar pengangguran, malah lahir istilah pengangguran terdidik.

Fidel Castro di awal memegang tampuk kepemimpinan di Kuba, ingin membebaskan semua aktivitas warganya dari sekolah formal, sebab segala aktivitas masyarakat saban hari sudah merupakan sekolah itu sendiri.

Nah, bukankah aktivitas menjahit Hukma dan kegiatan bertani Asis sudah jelas menopang kelangsungan hidup keluarganya. Sekolah macam apa lagi yang diharapkan menjadi jaminan kelak bagi anak-anak mereka. Sekolah, oh, sekolah. Sungguh candu yang memabukkan.

*F Daus Ar. Lansir dari:  saraung.com – 20 Agustus 2016.

*Rehal buku: Sekolah Itu Candu/ Roem Topatimasang/ INSISTPress, 2018.