Review: Tiada Jalan Bertabur Bunga

Review: Tiada Jalan Bertabur Bunga*

“Dalam sejarah Indonesia, Pulau Buru tahun 1969-1979 bukan hanya sebuah lokasi terjadinya kerja paksa, hinaan, siksaan, dan kematian yang dipaksakan oleh anak-anak bangsa terhadap sesama anak bangsa. Ia juga tempat jiwa-jiwa sekuat baja digembleng untuk mampu bertahan hidup di tengah paksaan, hinaan, siksaan dan kematian yang dipaksakan itu” – Baskara T. Wardaya S.J.

Buku-buku sejarah merupakan pintu untuk melihat masa lalu, memoar sejarah adalah pintu di dalamnya; membantu merasakan apa yang terjadi di masa lalu. Memoar sejarah mendekatkan pembaca secara emosional, pelengkap yang baik dalam memahami apa yang pernah terjadi karena tidak meniadakan sisi keterbatasan manusia dalam menghadapi suatu permasalahan di antara pertimbangan yang paling rasional sekalipun. Singkatnya, memoar membuat pembaca lebih memahami suatu kejadian tanpa menghakimi karena lebih memahami proses tiap-tiap pengambilan tindakan tokoh-tokoh hingga membentuk runtutan peristiwa.

Tiada Jalan Bertabur Bunga adalah ingatan sejarah seorang pelukis yang harus menjadi tahanan politik sejak 1966 tanpa proses pengadilan, sama seperti yang dialami ratusan ribu rakyat Indonesia lainnya pada masa itu. Dalam pembuangan, para tahanan politik melakukan caranya masing-masing dalam menjaga kewarasan. Bumi Manusia misalnya, karya terkenal Pramoedya Ananta Toer yang terlahir di pulau ini, juga sebagai upaya menjaga kewarasan dengan menulis.

Gregorius Soeharsojo Goenito membuat sketsa, puisi dan catatan-catatan selama masa tahanan politiknya, memoar ini adalah rangkaian sketsa, puisi dan catatan-catatan tersebut yang telah dilengkapi dengan narasi, mudah dipahami karena bisa dibaca secara verbal maupun visual.

Tidak seperti kebanyakan cara mengambarkan sejarah yang begitu jujur dan berdarah-darah, penulis membawa pembaca melihat sejarah dengan meminjam mata dan perasaannya, mata yang lebih memaknai segala keindahan dan perasaan yang lebih banyak bersyukur, optimis; usaha mempetahanan kesadaran untuk bertahan hidup dalam masa pembuangan yang sering berujung kematian.

Bagi saya pribadi pembuangan tanpa proses pengadilan dan pengkondisian yang tidak manusiawi atas nama apapun adalah pelanggaran HAM berat, membunuh cita-cita dan masa depan seorang manusia, memutuskan ikatan intelektual antar generasi, mengebiri negeri sendiri! Manusia yang mengalami berbagai peristiwa kelam masa lalu tidak lebih kurang nilainya dibanding manusia hari ini atau manusia masa depan, manusia dengan status tahanan politik atau ibu rumah tangga, manusia di Pulau Buru maupun di Surabaya atau Argentina, atau Filipina, atau kolong jembatan, atau rumah mewah. Kemanusiaan membuat semua manusia terikat secara emosinal, tidak disekat oleh ruang, waktu, status atau identitas tertentu. Bukankah seharusnya memang begitu?

Kenyataan paling menyakitkan lebih menyehatkan daripada segala kepalsuan yang paling menyenangkan tapi membuat dungu dan macet kemanusiaan.

Hormat saya sebesar-besarnya pada Pak Gregorius (jika bisa atas nama generasi saya).

*Sumber: ivanakurniawati.blogspot.co.id – 3 Desember 2016.

*Rehal buku: Tiada Jalan Bertabur Bunga: Memoar Pulau Buru dalam Sketsa/ Gregorius Soeharsojo Goenito/ INSISTPress, 2016.