Review: Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan

Review: Tindakan-Tindakan Kecil Perlawanan*

“Semua yang dibutuhkan oleh setan untuk menang adalah orang-orang baik tidak melakukan apa-apa.” [Edmund Burke]

Jika khalayak ramai hanya mengetahui cerita-cerita patriotik yang berhasil dilakukan sekelompok masyarakat untuk mengubah kondisi negaranya, seperti revolusi Perancis, atau reformasi tahun 1998 di Indonesia. Maka buku ini memberikan gambaran tentang ada tindakan-tindakan kecil yang awalnya kelihatan tak berarti, tapi ternyata membawa efek yang luar biasa. Beberapa rezim akhirnya tumbang, akibat tindakan-tindakan kecil yang berani dan cerdik, dan tidak sedikit yang membawa para pelakunya berdiri di depan moncong senapan.

Di dalam pendahuluan, penulis berharap kisah-kisah yang diceritakan dalam buku ini selalu menjadi pengingat akan semangat pembakangan dapat mengalahkan apa yang tak terkalahkan sebelumnya, dapat mengubah apa yang sebelumnya tak pernah bisa berubah.

Buku ini menjadi begitu menarik (paling tidak untuk saya pribadi), karena diterjemahkan khusus oleh seorang Roem Topatimasang—beliau dapat saya sebut sebagai seorang guru melalui buku-buku perlawanan-advokasi dan pendidikan kritis—dari judul aslinya “Small Acts of Resistance: How Courage, Tenacity, and Ingenuity Can Change the World” ke dalam bahasa Indonesia. Karena diterjemahkan oleh pak Roem, saya tidak terlalu meragukan penggunaan dan peramuan diksi yang tepat, sehingga pembaca tidak perlu berpikir berat untuk memahami maksud dari terjemahan ini.

Dari isi, buku ini terdiri dari 15 cerita besar yang semuanya memiliki keunikan dan (sekali lagi) begitu cerdik dan berani. Menjadi menarik buku ini dibaca oleh para aktivis atau mereka yang menggeluti teori-teori perubahan sosial, karena buku ini menyajikan hal-hal yang berbau metodologis, yang jika dipikirkan sepintas tidak akan booming dan akan sulit menghasilkan sebuah perubahan besar dan signifikan. Seperti cerita “Makar Halus” yang terjadi di Tiongkok (China) tentang upaya sensor ketat dari pemerintah untuk membungkam kebenaran yang ada, terkait peristiwa pembantaian Tiananmen pada Juni 1989.

Kisah-kisah lain tak kalah serunya, tentang perempuan yang menolak berhubungan dengan suami dan para lelakinya untuk menyuarakan perdamaian di bagian 6 “Perempuan Bilang “Tidak!”” atau tentang perlawanan terhadap pemerintah yang merampok suara untuk melanggengkan kekuasaan di bagian 5 “Menjegal Para Rampok Suara”, atau tentang usaha Didier Drogba mempersatukan negaranya (Pantai Gading) melalui sepakbola. Ada juga cerita mengenai kesenian yang diorganisir untuk menyuarakan ketidaksetujuan pada penguasa, dan cerita-cerita lainnya.

Terlepas dari metodologi yang begitu variatif dan mengesankan, beberapa kisah sebenarnya bagi saya sendiri tidak begitu sepakat berkaitan dengan konteks ceritanya, begitu nampak liberal. Ini sebenarnya disebabkan karena keberpihakan yang berbeda dengan sang penulis atau pun mereka yang menjadi sumber dari kisah-kisah. Seperti beberapa kisah yang mengambil setting di negara Iran yang memberikan gambaran berbeda dari apa yang selama ini saya dapatkan dari sumber yang berbeda. Bagi saya tak sepenuhnya negara atau dalam hal ini pemegang tampuk pemerintahan memiliki hobi melakukan penindasan kepada masyarakat baik dengan menggunakan senjata atau pun pembungkaman suara melalui sensor media (internet, khususnya). Walaupun, akhirnya ada negara yang terkesan berlebihan memberikan proteksi terhadap penggunaan internet, seperti Iran yang beberapa situs besar (Facebook atau Youtube) sulit diakses. Namun sepenuhnya itu tidak berhubungan dengan pembatasan hak suara, melainkan untuk mengurangi pengaruh pihak-pihak yang memiliki kepentingan (politik dan ekonomi) di Iran.

Namun, untuk mereka yang memiliki cita-cita besar membuat perubahan di lingkungannya sekalipun itu kecil, sepatutnya membaca buku ini. Karena buku ini akan membantu kita untuk merawat spirit untuk terus berbuat.

“Kata anak lelaki itu, ‘Ia belajar tentang bagaimana air yang lembut menitik, sekalam sekian tahun akan melubangi batu yang keras sekalipun. Dengan kata lain, kekerasan akan kalah juga akhirnya.” [Bertolt Brecht]

****

*Sumber: dibilikbuku.wordpress.com – Februari 2016.

*Rehal buku: Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia/ Steve Crawshaw & John Jackson/ Roem Topatimasang/ INSISTPress, 2015.