Menuju Jati Diri Guru

Menuju Jati Diri Guru*

Penjelasan yang cukup komprehensif mengenai kehidupan pendidikan khususnya yang terjadi pada konteks Indonesia menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar bagi mahasiswa keguruan. Dua kutub besar yang selalu menjadi persoalan, bagaimana bisa mengolahnya menjadi suatu sajian sedap dan bergizi bagi peserta didik: akademis dan pedagogis adalah tantangan bagi para guru. Di luar itu, institusi, pemerintah dan juga masyarakat sangat mempengaruhi bagaimana sebuah pendidikan bisa menjalankan fungsinya yang ideal.

Kajian evolusionis pendidikan di Indonesia oleh Buchori sangat membantu untuk terwujudnya “kultur kuguruan”. Hal tersebut adalah hal yang dinamis dan merupakan hal pokok untuk menentukan kriteria atau indikator profesionalitas guru sebagai ujung tombak dunia pendidikan yang ada di Indonesia. Buchori mengatakan bahwa masyarakat memandang guru-guru hasil pendidikan zaman belanda dahulu lebih profesional daripada guru-guru yang dihasilkan lembaga pendidikan guru kita akhir-akhir ini. Apakah karena lebih berwibawa, memliki pengetahuan umum yang lebih luas, atau karena sebab-sebab lain? Hasil kajian ini selanjutnya dapat kita pergunakan sebagai pedoman untuk menentukan bagaimana pendidikan guru Indonesia di masa depan harus dirancang.

Dunia pendidikan Indonesia dalam perjalanan waktunya mengalami banyak evaluasi terus menerus, dan hal ini syarat untuk pendewasaan sebuah lembaga yang memuat cita-cita luhur bangsa. Hal ini merupakan pekerjaan rumah yang sangat panjang dan melelahkan selain kuantitas yang memfokuskan pada pemerataan, permudahan akses, pembangunan fisik, dan lain-lain. Pada waktunya, mutu pendidikan menjadi hal yang menjadi persoalan yang serius dan dianggap menjadi hal yang lebih sulit untuk pada akhirnya ditingkatkan. Mutu pendidikan yang tinggi akan menciptakan guru-guru profesional. Dalam buku ini selanjutnya mengatakan, “namun, kalau kita tanyakan kepada masyarakat, apa yang sebenarnya kita maksudkan dengan kompetensi mengajar, dan apa unsur-unsur pokoknya, maka akan terdengar pandangan yang berbeda-beda.”

Buchori merumuskan empat golongan yang berbeda dalam memandang dan mengartikan kata mengajar. Golongan pertama, adalah golongan yang berpendapat mengajar adalah kegiatan mentransfer pengetahuan belaka. Menurut golongan ini kalau guru betul-betul menguasai bidang yang diajarkannya, dengan sendirinya dia akan mengetahui bagaimana caranya mengajarkan suatu topik. Lalu golongan kedua, mengartikan mengajar adalah kegiatan membimbing para siswa memiliki kemampuan mengembangkan pengetahuan secara terus-menerus. Guru-guru dalam golongan ini memandang mengembangkan pengetahuan berarti memperluas pengetahuan dan memperdalam pemahaman terhadap apa yang diketahui. Golongan ini juga yang mengatakan bahwa dalam penguasaan bidang pengetahuan seorang guru juga harus menguasai cara-cara yang terbaik. Misalnya, cara mengajar sosiologi akan berbeda dengan cara mengajar ekonomi.

Selanjutnya adalah golongan ketiga. Pandangan dalam golongan ini mengajar bukan hanya dalam rangka memintarkan murid semata, namun juga membakali tiga kemampuan yaitu kemampuan menghidupi dirinya sendiri, mengembangkan kehidupan pribadi yang bermakna, dan kemampuan untuk memuliakan kehidupan. Guru dalam golongan ini perlu memiliki multidisiplin ilmu lain atau pengetahuan yang lebih luas, misalnya mencakup psikologi remaja dan dasar-dasar filsafat. Terkhir golongan keempat, golongan yang lahir dari suatu kesadaran sejarah. Mereka memandang guru dan sekolah bertugas mempersiapkan generasi muda untuk pada waktu tertentu di masa depan mengambil alh dan melanjutkan pekerjaan mengelola kehidupan negara dan bangsa.

Dari keempat golongan yang merupakan kategorisasi subjektif Buchori, ia juga menambahkan lagi bahwa dua golongan pertama adalah golongan yang paling banyak penganutnya. Dua golongan tersebut pada intinya mengartikan kompetensi mengajar terutama ditentukan oleh penguasaan pengetahuan dan keterampilan pedagogik dalam artian yang sempit.  Tentunya hal ini sangat membantu dan penting bagipara mahasiswa kependidikan yang masih abu-abu mengenai dunia keguruan itu sendiri.

Masih banyak hal yang dapat diambil dari penjelasan yang komprehensif mengenai perkembangan pendidikan yang ada di Indonesia ini. Secara umum periodisasi zaman dalam perkembangan pendidikan adalah dimulai dari zaman kolonial belanda, kolonial jepang, orde lama awal, orde lama akhir, dan orde baru. Di setiap pembabagan sejarah tersebut ternyata pendidikan tidaklah murni lembaga yang mengembangkan pengetahuan. Pendidikan selalu terpengaruh dengan keadaan politik, maupun sosial-budaya pada zamannya. Dalam buku ini dijelaskan pula pendidikan guru dan watak zaman. Di bagian akhir juga ditambahkan studi mengenai persepsi masyarakat tentang guru dan dunianya (pendidikan) dan tentunya refleksi.

Buchori juga menyelipkan cerita dan kisah yang membantu dan mendukung penjelasannya. Cerita dan kisah tersebut juga menginspirasi menghadirkan tokoh yang perlu dijadikan pembelajaran. Salah satunya dalah seorang Habib Rachmad atau yang biasa dipanggil Meneer Habib seorang guru dari Solo tamatan Holland Inlandse Kweekschool (HIK), yang disayangkan oleh rekannya karena memutuskan berpindah pekerjaan dan tidak menjadi guru lagi, padahal dia adalah guru yang penuh dedikasi dan profesional selama lima tahun dia aktif memimpin organisasi yang menampung guru-guru tamatan HIK.

Diungkapkan oleh temannya yaitu tentang kehidupan guru sekolah “..hidup yang berkisar soal murid, pelajaran, bangunan sekolah, dan soal kearifan” Meneer Habib memutuskan pilihan demi mencari “Levensinzicht” , makna hidup dan penghayatan tenang keindahan Sang Pencipta melalui penghayatan keindahan alam. Buchori selanjutnya mengatakan “Pada akhirnya perlu kita sadari, apa yang ditinggalkan oleh guru yang baik, guru yang bekerja penuh dedikasi dan kreatifitas selama lima tahun, mungkin lebih besar artinya daripada apa yang ditinggalkan oleh guru yang dari tahun pertama sampai pensiun kerjanya selalu dipenuhi oleh keluhan dan ketidakpuasan.

Buku ini layak dibaca bahkan penulis sarankan menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa keguruan. Memberikan gambaran historis perjalanan pendidikan di Indonesia yang cukup lengkap yang akan membantu mewujudkan kultur keguruan bagi perkembangan pendidikan di masa sekarang. Namun perlu untuk diperlajari jenis-jenis sekolah dari sumber di luar buku ini sebagai penunjang yang akan sangat membantu membantu untuk memahami bentuk-bentuk sekolah (di masa kolonial) yang disebutkan sedikit rancu dan kurang jelas.

*Perehal: Samsul Maarif | Sumber: dilogi.student.uny.ac.id – 28 Maret 2017.

*Rehal buku: Evolusi Pendidikan di Indonesia dari Kweekschool sampai ke IKIP: 1852-1998/ Mochtar Buchori/ INSISTPress, 2009.