Pesan Damai Sang Petarung

Pesan Damai Sang Petarung*

 “Mengapa mereka meminta saya memakai seragam militer dan pergi puluhan ribu kilometer hanya untuk menjatuhkan bom dan membunuhi orang-orang berkulit coklat di Vietnam, padahal orang-orang yang mereka sebut Negro di Louisville diperlakukan seperti anjing dan disangkali hak-hak asasinya yang paling dasar? Tidak, saya tidak akan pergi puluhan ribu kilometer dari rumah untuk membantu pembunuhan dan pembakaran satu bangsa miskin, hanya untuk melanggengkan penguasaan para juragan kulit putih atas orang-orang berkulit gelap di dunia ini.”

Petinju Muhammad Ali bisa menghempas warga Amerika untuk mempertanyakan ulang makna nasionalisme negara yang memaksa warganya untuk menempur warga belahan bumi lain. Dengan penuh kesadaran akan risiko dari sikapnya, pada musim semi 1967, Ali tegas menolak wajib militer ke Vietnam yang sedang diperangi Amerika ketika itu.

Ali pun langsung disekap ke meja hijau, dicabut gelarnya sebagai juara dunia, dan dilarang mengikuti semua pertandingan tinju. Ia dipenjara dan juga didenda US$ 10.000! Sejak saat itu ia menjadi legenda juara tinju tiada banding, sebagai bagian tak terpisahkan dari seluruh kualitas pribadinya sebagai seorang petarung hebat: kecepatannya yang sangat terkenal, ketepatan pukulannya yang sangat keras dan tajam, keberaniannya menyatakan sikap, dan kekuatan pengaruh serta dampak yang ditimbulkannya kemudian.

Mendiang aktor kawakan Richard Harris mengomentari dengan kalimat sederhana: “Setiap petinju selama ini selalu berusaha dan bersedia menjual jiwa mereka demi mencapai gelar sebagai juara dunia tinju kelas berat. Apa yang dilakukan Ali? Dia justru menemukan kembali jiwanya dengan melepaskan gelar juara dunia itu.”

*Pesan Damai Sang Petarung, hlm. 36-38, Tindakan-tindakan Kecil Perlawanan: Bagaimana Keberanian, Ketegaran dan Kecerdikan Dapat Mengubah Dunia/ Steve Crawshaw & John Jackson/ Roem Topatimasang (penerjemah)/ INSISTPress, 2015.