Kuasa Eksklusi: Dilema Pertanahan di Asia Tenggara

Rp 145.000,00

Judul Asli: Powers of Exclusion: Land Dilemmas in Southeast Asia (NUS Press, 2011)
Penulis: Derek Hall, Philip Hirsch, & Tania Murray Li
Penerjemah: Darmanto Simaepa dan Achmad Choirudin
Penyunting Ahli: Ben White
Perwajahan Isi: Damar N. Sosodoro
Perancang Sampul: Mirzmade Design Manufacture
Penerbit: INSISTPress, 2020
Kolasi: 420 halaman/14 x 20 cm
Cetakan pertama, April 2020
ISBN: 978-602-0857-90-9

Description

Persoalan mengenai siapa yang dapat dan dicegah untuk mengakses tanah mendasari berbagai konflik sosial dan politik di Asia Tenggara. Buku ini menelaah proses-proses kunci melalui mana pergeseran-pergeseran hubungan pertanahan berlangsung: alokasi tanah negara dan penyediaan hak-hak atas tanah, perluasan kawasan lindung, demam komoditas budidaya, alih fungsi lahan pertanian, pencegahan akses orang-orang dekat, serta mobilitas klaim pertanahan dalam terma identitas dan keterikatan dengan tempat. Dalam studi kasus di tujuh negara, para penulis buku ini menemukan bahwa empat “kuasa ekslusi” –pengaturan, pasar, pemaksaan, dan legitimasi—bersenyawa membentuk hubungan pertanahan dalam jalur-jalur baru dan sering kali mengejutkan.

Debat pertanahan kerap menonjolkan pertentangan antara dua hal: penggunaan tanah berorientasi pasar dengan hak-hak kepemilikian pribadi di satu sisi, dan akses yang adil, produksi untuk subsistensi, dan penghormatan atas adat istiadat di sisi lain. Para penulis buku ini menilik debat tersebut untuk menunjukkan bahwa penggunaan produktif apa pun atas tanah mensyaratkan eksklusi terhadap calon pengguna, juga bahwa nyaris semua proyek yang mengubah hubungan pertanahan dengan demikian selalu disertai dilema. Alih-alih memberlawankan “ekslusi” terhadap “inklusi”, buku ini menekankan untuk memusatkan perhatian pada siapa yang terekslusi, bagaimana, mengapa, dan konseukensinya seperti apa.

Mengusung wawasan dari berbagai disiplin ilmu, buku ini memetakan pola-pola baru pergumulan pertanahan di Asia Tenggara, dengan menyediakan suatu kerangka untuk menelaah dilema-dilema dalam hubungan pertanahan.

 

Kuasa Eksklusi: Dilema Pertanahan di Asia Tenggara adalah buku yang tak lekang oleh waktu, khususnya dalam konteks krisis ekonomi global, sebagai suatu simpulan ringkas mengenai dampak yang menyingkirkan dari krisis pangan. … Derek Hall, Philip Hirsch, dan Tania Murray Li telah menuliskan salah satu buku paling penting dari sekian banyak buku tentang ekonomi politik agraria yang pernah saya baca. Ambisius secara teoretis namun tetap berpijak pada data-data empiris, ditulis dengan sangat baik dan dengan demikian mudah dibaca, buku ini akan dibaca dan digunakan oleh banyak kalangan, juga akan menjadi rujukan standar.
A. Haroon Akram-lodhi, Journal of Agrarian Change

Topik buku ini sangat penting dan relevan dengan era ini. Sangat berguna. Tujuan pembahasan buku ini, sebagaimana saya pahami, bukanlah untuk menyuguhkan kepada kita teori babon tentang perubahan agraria, melainkan menyediakan suatu perangkat analisis untuk memahami mikropolitik pergulatan mendapatkan akses atas tanah di berbagai tempat berbeda-beda di dunia.
Perangkat analisis ini adalah suatu pelengkap yang cermat bagi teori-teori seputar perubahan sosial dan agraria.
Wendy Wolford, American Association of Geographers

Dengan Kuasa Eksklusi: Dilema Pertanahan di Asia Tenggara, Derek Hall, Philip Hirch, dan Tania Murray Li mengaduk semua pergulatan seputar akses dan kontrol atas tanah. Kekuatan buku ini berada pada ketangkasan kerangka analisisnya yang baru, pembahasan komparatifnya tentang transformasi akses dan penguasaan atas tanah yang mendetail, serta bidikan-bidikannya yang mencerahkan atas literatur tentang ekologi politik pertanahan di Asia Tenggara.
Keith Barney, New Mandala

Fokus pada konsep eksklusi dalam kaitannya dengan konsep akses menempatkan buku ini lebih radikal dan secara intelektual membuatnya lebih menggugah daripada kebanyakan pustaka lain yang membahas akses atas tanah.
Hall, Hirsch, dan Li telah melakukan pekerjaan mulia dengan menulis buku ini, satu buku yang mudah dibaca, kaya data empiris, dan memberikan pengetahuan konseptual, yang sangat berguna bagi mereka yang meneliti dan mengajar tentang isu seputar tanah, akses, eksklusi, relasi sosial, dan diferensiasi sosial.
Rodd Myers, Antipode: A Radical Journal of Geography

Sesekali muncul sebuah buku yang pengaruhnya tak lekang oleh waktu. Ia mengisi celah penting di antara deretan pustaka yang telah ada. Kuasa Eksklusi adalah buku semacam itu.
Buku ini layak mendapat perhatian bagi mereka yang menekuni isu-isu ekologi politik, penguasaan dan konflik atas tanah, serta hubungan masyarakat-alam di Asia Tenggara dan lebih luas.
Ian Baird, Journal of Asian Studies

 

 


Opini, komentar, ulasan, dan tulisan terkait:

Additional information

DAFTAR ISI

Akronim dan Singkatan — ix
Gambar dan Tabel — xiii
Sambutan Penulis — xv
1 Pendahuluan — 1
2 Eksklusi yang Diresmikan: Sertifikasi, Reforma Agraria, dan Alokasi Tanah — 43
3 Eksklusi yang Menguar: Kepedulian Lingkungan dan Konservasi Alam — 99
4 Eksklusi Tak Menentu: Demam Komoditas Budidaya dan Akibat-Akibatnya — 145
5 Eksklusi Pasca-Agraria: Konversi Lahan Pertanian — 195
6 Eksklusi Orang-Orang Dekat: Akumulasi dan Perampasan Sehari-Hari — 239
7 Eksklusi Tandingan: Mobilisasi Kolektif untuk Tanah dan Kedaulatan — 282
8 Kesimpulan — 321
Lampiran — 347
Daftar Pustaka— 367
Indeks — 391

SAMBUTAN PENULIS

KEINGINAN menulis buku ini tercetus dari keterlibatan kami dalam program penelitian “Challenges of the Agrarian Transition in Southeast Asia” (ChATSEA), yang didanai oleh Social Sciences and Humanities Research Council, Kanada (Badan Penelitan Kanada untuk Ilmu Sosial dan Humaniora) antara 2005–2010. Kami ingin menghaturkan terima kasih kepada para peserta lain dalam program ini, juga kepada para rekan kerja dan mahasiswa pascasarjana, atas persahabatan, komentar, dan saran-saran, serta untuk perluasan pemahaman kami mengenai kajian agraria Asia Tenggara. Secara khusus kami berterima kasih kepada Rodolphe De Koninck (Direktur Proyek), Bruno Thibert, Monia Poirier, dan Bruno Gendron atas kerja-kerja mereka di “kantor pusat ChATSEA” di Université de Montréal, Kanada. Kami tak mungkin mampu menulis buku ini tanpa pertemuan-pertemuan bersama dalam berbagai kesempatan, dan kami berterima kasih kepada Nancy Lee Peluso yang menyediakan kantornya di Berkeley untuk rapat-rapat, kepada University College di University of Toronto untuk sepuluh hari penginapan dan ruang kerja Bissell House yang luar biasa, juga kepada ChATSEA atas pembiayaan perjalanan kami. Kami menerima umpan balik yang sangat berharga atas draf beberapa bab buku ini pada sebuah lokakarya ChATSEA di Montréal; pada pertemuan Canadian Council for Southeast Asian Studies pada 27 Oktober di Université Laval; dari kelompok Land Lab-nya Nancy Lee Peluso pada September 2009; serta dari Rob Cramb, Josephine Gillespie, dan seorang pengulas anonim dari NUS Press. Elissa Janca membantu penelitian secara luar biasa pada tahap awal proyek ini; Sunandini Arora Lal dari NUS Press mengerjakan penyuntingan dan pemeriksaan aksara dengan penuh ketekunan; dan Bruno Thibert menyediakan peta-peta. Derek Hall berterima kasih juga kepada Tanya Richardson atas saran, dorongan, dan dukungan yang sangat berguna sepanjang proses penulisan.

Naskah ini disusun melalui penulisan bersama secara setara, dikembangkan lewat berminggu-minggu diskusi intensif serta berbulan-bulan penulisan dan penulisan ulang, hingga terus berlanjut dengan ditopang penghargaan atas sebuah kerja kolaborasi yang menantang masing-masing kami untuk melampaui zona nyaman disiplin, wilayah kajian, dan teori yang kami minati. Kami mengakui dengan penuh kebanggaan bahwa kami saling belajar satu sama lain, dan menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak ada satu pun di antara kami mampu mengonseptualisasikan sendiri, apalagi menulis seorang diri.

Edisi Indonesia buku ini dikerjakan dalam proses penerjemahan yang panjang dan menantang—suatu proses yang membutuhkan pengetahuan mendalam tentang bahasan buku ini, kelihaian berbahasa Inggris dan Indonesia, serta kreativitas dan kesabaran yang berlimpah. Terima kasih setulusnya kepada dua penerjemah utama buku ini, Darmanto Simaepa dan Achmad Choirudin, juga kepada Ben White atas asistensinya. Terima kasih juga kepada NUS Press atas kesediaannya untuk melepaskan hak penerbitan edisi Indonesia buku ini, kepada STPN Press atas dukungannya untuk memperluas desiminasi buku ini, dan kepada INSISTPress yang telah mengawal penerbitan buku ini •